Erasing The Traces of Fear (The Long History Of Wounds & The Voices Of Married Women)
Halo semua... Kembali bersama aku yaitu Yomita Sonia Tanjung... Maaf banget aku sibuk, karena aku lagi cari kerjaan akhir-akhir ini sebenarnya. Oke, karena aku sedang bebas dan aku juga ingin menulis kembali di sini yaitu di blog aku untuk berbagi cerita, speak up dan pandangan. Tapi sebelum masuk ke topik nya, aku ingin menanyakan suatu hal yang membuat aku bertanya-tanya.
Pernikahan seperti apa yang kalian inginkan? Karena topik kali ini sangatlah berat untuk aku yang berhubungan tentang pernikahan, kekerasan, pria dan wanita. Aku ingin membuat blog ini supaya kalian bisa lebih mencintai diri kalian terlebih dahulu.
Apa itu pernikahan? Menurut aku, pernikahan itu penyatuan 2 keluarga yang berbeda dengan rasa saling percaya atau yakin, menunjukkan rasa hormat dan kasih sayang dalam ikatan yang resmi.
Pernikahan bukan tentang menyukai dan disukai, tapi juga berkaitan dengan pola pikir, perbedaan, permasalahan dan kesetaraan. Sebelumnya aku pernah mengatakan bahwa cinta itu adalah fatamorgana, karena akan lebih banyak berharap dari seseorang yang belum tentu ia baik dan tidak untuk kita. Tapi kalau sudah kenal lama dan udah sayang banget itu akan sulit melupakan, karena move on itu sulit banget, apalagi ketika kita udah tahu ia seperti apa gitu. ๐ญ๐ญ๐ญ๐ญ (Maaf jadi curhat... Hehehe...)
Beberapa bulan yang lalu aku melihat banyak kasus para wanita yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), beberapa dari mereka adalah wanita yang memiliki gelar dan mandiri.
Dan berbagai faktor utama dari kasus KDRT itu banyak banget, berikut faktor-faktornya :
1. Masalah Ekonomi
Kemiskinan dan tekanan finansial memicu stres tinggi yang kerap dilampiaskan dalam bentuk kekerasan. Masalah ekonomi sering menjadi pemicunya, karena uang yang dimiliki itu hanya cukup untuk dirinya sendiri dan herannya kebanyakan ibu dari pihak pria yang lebih banyak menyalahkan pihak perempuannya. Aku tahu perempuan bisa salah, jangan sampai kalian para pria menjadi ego, karena tidak adak memiliki kendali khusus terhadap tangan kalian sendiri.
2. Budaya Patriarki
Budaya patriarki yang mengakar dengan pandangan bahwa suami memiliki kuasa penuh atas istri menciptakan ketimpangan relasi kuasa yang merusak. Pandangan keliru ini hanya akan memperburuk hubungan, padahal sebuah pernikahan yang sehat seharusnya didasarkan pada kerja sama dan rasa saling membantu. Laki-laki sejati yang menghargai perempuan justru akan merasa bangga jika istrinya memiliki pencapaian atau dominasi yang lebih tinggi daripada dirinya.
Namun, ironisnya, masih banyak laki-laki yang merasa iri terhadap kesuksesan pasangannya. Hal ini sering kali disebabkan oleh rapuhnya konsep harga diri dalam diri laki-laki yang masih mendefinisikan kejantanan dari posisi dominan atas istri. Ketika standar itu tergeser, rasa tidak aman (insecurity) pun muncul, yang pada akhirnya memicu ego berlebihan dan kemarahan yang berujung pada kekerasan.
3. Perselingkuhan atau Poligami
Dugaan atau fakta perselingkuhan menjadi pemicu emosi destruktif dan konflik. Praktik poligami yang dilakukan tanpa persetujuan istri atau tanpa keadilan kerap menimbulkan diskriminasi dan tekanan mental bagi istri pertama. Dan aku heran kenapa banyak banget laki-laki yang berkeinginan untuk memiliki lebih dari 1 istri (bahkan dalam kondisi ekonomi yang tidak memungkin untuk berpoligami), karena menurut aku satu saja sudah menguras tenaga dan anggaran perempuan lebih banyak dari laki-laki.
Hitungannya dari make up, skincare, makan, pakaian layak, belum juga anak-anak dan sekolah anak-anak, itu semua tanggung jawab seumur hidup dari pihak laki-laki. Kalau seandainya laki-laki nya sedang sulit ekonomi dan mengetahui kalau banyak istri akan mempersulit hidupnya sendiri, ditambah dengan anak-anak yang banyak dan hal itu harus dilakukan seumur hidupnya.
4. Kondisi Psikologis
Banyak laki-laki yang tidak memiliki kemampuan untuk mengelola emosi (anger management yang buruk) atau gangguan mental, padahal sifat wanita itu emang benar-benar gak bisa dibentak.
5. Penyalahgunaan Zat
Kebiasaan berjudi, konsumsi minuman beralkohol dan penggunaan narkoba dapat merusak pengendalian diri.
6. Perjodohan
Pernikahan tersebut tidak didasari oleh prinsip dalam pernikahan yaitu tidak saling mencintai, memahami dan menghargai itu akan beresiko terjadinya KDRT. Hubungan itu seharusnya dibentuk dari diri sendiri, baik itu wanita atau pria. Karena kata orang-orang yang sudah menikah, "Yang membuat pernikahan bertahan adalah pola pikir, tanggungjawab dan rasa nyaman atau aman, bukan siapa yang mencintai lebih terhadap seseorang baik itu pria atau wanita...".
7. Lavender Marriage
Buat kalian yang ga paham, "Apa itu lavender marriage?".
Lavender Marriage adalah pernikahan antara seorang pria dan seorang wanita yang dilakukan untuk menutupi orientasi seksual yang salah satu atau kedua pasangan ini yang bukan heteroseksual, biasanya seorang homoseksual.
Lavender Marriage bisa dilakukan atas dasar persetujuan dari 2 orang tersebut atau pun tidak, yang kasihan itu adalah yang tidak tahu apa-apa mengenai pasangan mereka, karena biasanya mereka adalah korban. Kalau seandainya mereka sama-sama mengetahui orientasi seksual mereka, itu urusan mereka lah, kayak terserah mereka gitu. Tapi gak boleh ditiru yaaaa, guys...
Kenapa aku bilang Lavender Marrige bisa menyebabkan KDRT?
- Karena dilandasi oleh penipuan identitas, manipulasi psikologis serta kegagalan pemenuhan hak dasar dalam pernikahan. Pastinya baik itu perempuan atau laki-laki menginginkan cinta atau ikatan dalam pernikahan itu sendiri, tapi kalau berdasarkan kebohongan, aku yakin siapa pun tidak akan merasa puas dengan suaminya atau istrinya sendiri.
8. Pola Asuh atau Lingkungan Yang Toxic
Pola asuh dan lingkungan sekitar yang toxic adalah salah satu fondasi yang dapat mempengaruhi seseorang menjadi pelaku KDRT. Namun proses itu tidak sederhana, karena pria yang masa kecilnya itu penuh dengan pola asuh yang tidak baik atau lingkungan yang tidak baik, tetapi ia sadar secara dewasa, pola pikirnya dewasa dan mulai terbuka, ia tahu apa yang diperbuat oleh orangtua dan lingkungannya tidak bisa dilakukan oleh perempuan mana pun dan anak-anak mana pun (Begitu juga sebaliknya).
Yang penting pola asuh dan masa kecil dapat menjelaskan dari mana pola perilaku berasal, tetapi tidak membenarkan KDRT.
Ketika seseorang telah dewasa, ia tetap bertanggungjawab untuk menghentikan perilaku kekerasan dan mencari cara yang sehat untuk menghadapi konflik. Bahkan seseorang yang dibesarkan dalam keluarga penuh kekerasan bisa memilih untuk memutus rantai kekerasan (Cycle Breaker), orang yang menyadari pola tersebut memilih untuk tidak meneruskan kekerasan dalam keadaan apapun.
SEJARAH KDRT DI INDONESIA DAN AKHIR PENGESAHAN PKDRT
Kali ini kita akan membahas mengenai sejarah perjuangan panjang penanganan KDRT di Indonesia serta tonggak sejarah pengesahan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT).
Di Indonesia, kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) telah mengakar sejak lama (Mungkin dari zaman purba atau kerajaan sudah ada, we never know). Hal ini didorong oleh pandangan bahwa suami memiliki hak sepenuhnya atas sang istri serta kuatnya cengkeraman budaya patriarki. Kesalahan kecil yang dilakukan istri kerap kali berujung pada kekerasan fisik seperti ditampar atau berbagai bentuk hukuman lainnya. Sayangnya, korban tidak pernah mendapatkan penanganan atau perlindungan yang layak.
Saat itu, masyarakat justru kerap menyudutkan perempuan dengan melanggengkan stigma bahwa "istri harus selalu patuh". Tidak jarang pula muncul fitnah atau gosip miring terhadap korban, seperti tuduhan perselingkuhan, padahal faktanya justru sang suami lah yang berkhianat pada pernikahan. Kondisi ini semakin diperparah oleh pandangan masyarakat yang menganggap KDRT sebagai 'aib keluarga' atau urusan privat yang tabu dicampuri pihak luar.
Akibatnya, banyak perempuan terpaksa menutupi penderitaan mereka dan memaklumi kekerasan tersebut seolah-olah hal itu adalah sesuatu yang normal, sembari memikul rasa bersalah yang keliru hingga mati karena dipukuli dengan tangan atau benda-benda yang ada di rumah, bahkan mengakhiri hidupnya sendiri.
Pada masa itu, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) juga belum mengenal delik khusus tentang KDRT. Akibatnya, tindakan kekerasan suami terhadap istri sering kali hanya dianggap sebagai penganiayaan ringan biasa dan diabaikan begitu saja oleh penegak hukum, karena pada zaman itu, penegak hukum merasa kalau hal tersebut bukan urusan mereka.
Melihat ketidakadilan yang terus berulang, penderitaan yang disembunyikan para istri dan menilai kekerasan terhadap istri merupakan kasus yang tidak boleh ditutupi, hingga akhirnya para aktivis serta gerakan perempuan tidak tinggal diam. Mereka mulai bersuara lantang, mendobrak tembok tabu masyarakat dan berjuang melawan sistem yang menempatkan perempuan dalam posisi rentan tanpa perlindungan.
Tepat pada tahun 1998, Komnas Perempuan resmi dibentuk sebagai respons atas desakan kuat masyarakat sipil dan gerakan perempuan terhadap maraknya kekerasan berbasis gender. Kehadiran lembaga ini menjadi titik tolak penting dalam upaya membongkar tabu sosial seputar KDRT di Indonesia, bukan hanya menangani kasus KDRT di Indonesia, tetapi juga ketidakadilan untuk para perempuan yang belum menikah dan kekerasan seksual terhadap perempuan.
Pada tahun 2004, pemerintah dan DPR resmi mengesahkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT). Pengesahan ini menjadi tonggak sejarah baru yang revolusioner bagi hukum di Indonesia, sekaligus angin segar bagi para perempuan. Melalui undang-undang ini, negara akhirnya hadir untuk memberikan perlindungan hukum yang tegas, mengakui KDRT sebagai kejahatan serius, bukan sekadar urusan privat atau aib keluarga, serta menjamin bahwa setiap tindak kekerasan di dalam rumah tangga wajib ditindak secara hukum demi menciptakan keadilan dan keselamatan bagi para korban.
Sebagai seorang perempuan, aku ingin mengatakan bahwa setiap perempuan layak mendapatkan cinta dan kehormatan pada tubuhnya. Tidak ada satu pun alasan, budaya ataupun ego yang dapat membenarkan segala bentuk kekerasan dan penindasan di balik dinding rumah. Sudah saatnya kita membuka mata, mengakhiri bungkam dan berdiri bersama sebagai sesama manusia yang memiliki hati nurani untuk perempuan yang merupakan manusia yang sama seperti kamu dan aku.
Bahkan banyak diskriminasi dan kekerasan dalam rumah tangga sering kali dimaklumi oleh sesama perempuan. Banyak perempuan yang berbalik menjadi "musuh" bagi sesamanya dengan memaklumi KDRT dan menilai bahwa wajar jika seorang istri mendapatkan hukuman atau kekerasan dari suami. Pandangan seperti ini adalah racun berbahaya yang mengakar di tengah masyarakat yang membuat korban semakin terisolasi tanpa ada tempat untuk bersandar yang aman dan tanpa adanya kehormatan.
Salah satu kasus KDRT yang sangat ramai di Indonesia tahun 2024 telah terjadi di Bogor, kasus ini menimpa seorang Influencer yang merupakan Atlet Anggar yang menikah secara Ta'aruf pada usia 18 atau 19 tahun pada tanggal 24 Agustus 2019.
Kasus KDRT Cut Intan Nabila & Armor Toreador (Bogor)
- Pada bulan Agustus 2024 ramai banget kasusnya Cut Intan Nabila yang merupakan seorang Influencer yang sangat berbakat sebagai Atlet Anggar yang menikah secara ta'aruf. Perkenalannya dengan Armor bermula dari media sosial. Ia dan Armor lantas sepakat bertemu dengan didampingi orangtua masing-masing demi menghindari fitnah.
- Pada tanggal 24 Agustus 2019, Cut Intan Nabila dan Armor Toreador resmi menikah dan akhirnya mereka dikaruniai tiga anak. Anak yang terkahir itu lahir dibulan Juli 2024. Setelah sebulan kelahiran anak terakhirnya, Cut Intan Nabila mempublikasikan rekaman CCTV ke media sosial yaitu Instagram pribadinya.
- Kronologinya :
- Awal Kasusnya (Agustus 2024) : Cut Intan Nabila telah menderita dan mengalami KDRT selama 5 tahun sebelum ia memutuskan mempublikasikan video rekaman CCTV yang merupakan bukti KDRT, ia mengumpulkan keberaniannya dengan mempublikasikan video tersebut dan menuliskan captionnya sebagai berikut :
- "Selama ini saya bertahan karna anak, ini bukan pertama kalinya saya mengalami KDRT, ada puluhan video lain yang saya simpan sebagai bukti, 5 tahun sudah berumah tangga, banyak nama wanita mewarnai rumah tangga saya, beberapa bahkan teman saya. Sudah beberapa kali saya maafkan, tapi tak pernah terbuka hatinya, ternyata benar, perselingkuhan dan KDRT tidak akan pernah berubah, maafkan saya jika selama ini menutup diri, membuat beberapa konten menyinggung, saya seorang diri tidak pernah membuka aib rumah tangga saya, saya jaga martabatnya, hari ini saya sudah tidak bisa menahan semua sendiri."
- Tindak Kekerasan : Emosi pelaku memuncak hingga melakukan penganiayaan brutal secara membabi-buta kepada korban di atas tempat tidur. Mengerikannya lagi, tindakan kekerasan tersebut turut disaksikan atau berada dekat dengan bayi mereka yang baru lahir sehingga bayi mereka ketendang oleh suaminya sendiri. Karena Cut Intan tidak bisa menahan penderitaan yang dialami oleh dirinya sendiri dari suaminya, ia memutuskan untuk mempublikasikan video tersebut ke Instagram. Pada akhirnya postingan tersebut ramai dan viral, akhirnya video tersebut menjadi ancaman untuk suaminya dan mertuanya.
- Video Viral & Penangkapan : Korban memberanikan diri mengunggah rekaman CCTV kejadian tersebut ke akun Instagram pribadinya. Video itu langsung viral dan memicu kemarahan publik.
- Proses Hukum : Polres Bogor bergerak cepat kurang dari 7 jam setelah video viral. Pelaku ditangkap di sebuah hotel di wilayah Jakarta Selatan dan langsung ditetapkan sebagai tersangka dengan dijerat UU PKDRT (Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga) serta pasal penganiayaan.
- Sidang Awal : Sidang awal Cut Intan Nabila dengan terdakwa suaminya, Armor Toreador, dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober 2024 digelar di Pengadilan Negeri (PN) Cibinong, Bogor, Jawa Barat. Pembacaan surat dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) kepada terdakwa. Cut Intan Nabila hadir secara langsung didampingi oleh kuasa hukum dan kerabatnya untuk mengawal jalannya proses hukum. Sebelum sidang dimulai, Armor Toreador menyampaikan permintaan maaf kepada istri, anak-anak, serta keluarganya. Ia menyatakan siap menjalani proses hukum dan tidak mengajukan eksepsi ataupun langkah hukum praperadilan.
- Sidang Pemeriksaan Saksi (Akhir November 2024) : Cut Intan Nabila hadir langsung di Pengadilan Negeri Cibinong untuk memberikan kesaksian di hadapan majelis hakim. Jaksa Penuntut Umum (JPU) juga menghadirkan beberapa saksi lain untuk memperkuat pembuktian
- Tuntutan Jaksa : JPU sempat melayangkan tuntutan pidana penjara selama 6 tahun kepada Armor Toreador atas tindakan kekerasan yang dilakukannya.
- Sidang Vonis (7 Januari 2025) : Majelis Hakim Pengadilan Negeri Cibinong menjatuhkan vonis 4,5 tahun penjara kepada Armor Toreador. Vonis ini sedikit lebih ringan dari tuntutan jaksa.
- Sikap Terdakwa : Setelah mendengar putusan tersebut, pihak Armor Toreador menyatakan menerima vonis dan tidak mengajukan banding. Selain proses pidana KDRT, hubungan pernikahan keduanya juga berakhir melalui proses perceraian.
- Putusan Majelis Hakim (Maret 2025) : Majelis hakim secara resmi mengabulkan gugatan cerai yang diajukan oleh Cut Intan Nabila dengan menjatuhkan talak satu ba'in sughra.
- Hak Asuh Anak : Hak asuh ketiga anak mereka jatuh sepenuhnya kepada Cut Intan Nabila selaku ibu kandung.
- Kewajiban Nafkah : Majelis hakim mewajibkan Armor Toreador untuk memberikan nafkah anak sebesar minimal Rp15 juta per bulan (diluar biaya pendidikan dan kesehatan), dengan ketentuan kenaikan 10% setiap tahunnya hingga anak-anak dewasa atau berusia 21 tahun.
PESAN PENTING UNTUK PARA PEREMPUAN YANG MERUPAKAN KORBAN DAN PARA PRIA YANG MERUPAKAN PELAKU :
Syifa Rizky Fitriatmoko
Teruntuk seluruh manusia yang memiliki pasanagan...
Pokoknya jangan kalian berfikir untuk menyakiti perempuan yang tulus kepada kalian, sebab wanita seperti itu tidak akan datang untuk kedua kalinya. Tolong hentikan. Kasihan pasangan kalian.
Tindakan kalian akan meninggalkan trauma mendalam yang membuatnya sulit memulai hidup baru. Membangun kesehatan mental itu tidak mudah, dan berobat ke psikolog itu tidak murah. Kalau kalian tidak mau bertanggung jawab sampai akhir, jangan pernah mulai menyakiti.
Coba bayangkan jika yang ada di posisi itu adalah orang tua kalian sendiri. Apakah kalian tega?
Jangan sampai menunggu kehilangan baru menyesal. Kesempatan kedua itu tidak selalu ada. Sekalipun kalian berkata sudah berubah, luka yang sudah kalian buat membuat mereka tidak akan pernah mau kembali lagi.
Krisna Sotapanna Wira
Teruntuk laki-laki di luar sana...
Teruntuk perempuan di luar sana...
Segera keluar dari hubungan kamu, tidak ada yang hal baik dari dicederai secara fisik & mental oleh pasangan. Tidak akan ada orang yang menolong sebelum kamu memintanya, jadi sebaiknya bersuara saja.
Intan Amalia Sorongan
Teruntuk laki-laki di luar sana...
PELAKU KDRT!!! Kalian dibesarin orangtua kalian pake cara apasih? Apa karena ortu kalian kasar ke kalian, kalian juga bisa kasar ke orang lain? LOGICAL FALLACY!! Apa dengan memukul dan mengoceh, bisa membuat kalian lebih baik? Kalau lagi kesel, beli aja bantal samsak tinju, bukannya anak orang yang elu tinju kocakkk. (Sabar ka... Jangan marah-marah... ๐ญ๐ญ)
Teruntuk perempuan di luar sana...
Terima kasih untuk teman-teman yang sudah berjuang keras, bertahan baik untuk diri sendiri atau untuk anak mu. Keep in mind, kamu selalu punya tempat untuk berlindung. Jangan takut untuk cari tempat mengadu. Lawan dia karna dia salah! Suatu hari, luka itu akan sembuh dengan waktu, aku percaya, kita semua akan baik-baik saja.
Qurnia Mega Pratiwi
Teruntuk laki-laki di luar sana...
Buat pelaku KDRT, sebaiknya harus introspeksi diri sih jangan terus terusan nyalahin korban atau pasangan. Harus berani bertanggung jawab sama perbuatannya minimal konseling ke psikolog. Kalo emang udah gak cinta dan udah bosen sama pasangan/istri lebih baik sudahan saja, pulangin ke orangtua dan keluarganya. Daripada ia berbuat kasar dan menyakiti pasangan/istrinya.
Teruntuk perempuan di luar sana...
Buat korban KDRT itu harus berani speak up dan harus berani keluar dari zona nyaman sih. Jadi ia harus berani cerita minimal ke orang terdekat atau orang yang dipercaya kalau ia itu korban KDRT. Harus berani ngumpulin bukti-bukti kekerasan dan melaporkan kasus KDRT. Jangan sampai terus terusan menyalahkan diri sendiri dan harus sadar itu hubungan yang dijalanin emang sudah tidak sehat, jadi harus berani keluar dari zona nyaman.
Nabila Ramadhanti
Teruntuk laki-laki di luar sana...
Buat pelaku, please stop buat KDRT, jangan melampiaskan emosi kepada wanita karena wanita bukan objek untuk dijadikan pelampiasan emosi.
Teruntuk perempuan di luar sana...
Jangan takut untuk melepaskan dan jangan takut juga buat melaporkan perbuatan KDRT itu, karena kamu nggak pantas diperlakukan seperti itu. Jangan salahkan diri sendiri, kamu berhak hidup dengan aman, dihargai, dan dicintai tanpa rasa takut.
Putri Rizky
Teruntuk laki-laki di luar sana...
Kalau kamu sudah sering mukul pasanganmu, kamu sedang menghancurkan orang yang seharusnya kamu lindungi. Dan kamu juga sedang menghancurkan dirimu sendiri.
Teruntuk perempuan di luar sana...
Kamu tidak salah. Tidak ada alasan apa pun yang membuat kamu pantas dipukul, dimaki atau disakiti.
Prayoga Wahyu Eka Pramono
Teruntuk laki-laki di luar sana...
Menikah bukan hanya soal niat, tapi tentang bekal yang matang. Pikirkan secara matang mitigasi risiko seperti kesiapan ekonomi, biaya kehidupan dan masa depan anak agar tidak berujung pada tekanan yang memicu emosi berlebih.
Jadikan komunikasi sebagai kunci utama. Biasakan untuk saling introspeksi diri, mengenali kekurangan masing-masing dan memiliki visi yang jelas mau dibawa ke mana arah hubungan pernikahan kalian. Suami dan istri harus saling mendukung, terutama saat salah satu dari kalian sedang lelah menghadapi kerasnya dunia luar.
Pasangan yang baik juga perlu saling mengerti. Berikan ruang bagi satu sama lain untuk memiliki quality time, termasuk bagi cowok untuk menikmati dunianya sendiri lewat hobi, bermain game atau berkumpul dengan teman-temannya secara sehat.
Bekali diri dengan pemahaman dan kekuatan agama yang kuat sebagai fondasi dalam menjalani bahtera rumah tangga.
Teruntuk perempuan di luar sana...
Sangat wajar jika kamu merasa kalimat seperti "sabar ya", "yang kuat ya" atau "banyak-banyak ibadah" terasa hampa atau kurang membantu saat ini. Beban traumatis yang kamu rasakan jauh lebih dalam daripada sekadar nasihat verbal.
Yang paling kamu butuhkan sekarang bukanlah kalimat klise, melainkan aksi nyata dari orang-orang terdekat berupa perlindungan yang aman, kehangatan dan kenyamanan secara emosional.
Ingatlah bahwa KDRT sangat berdampak besar pada kondisi mental dan psikismu. Jangan ragu untuk mendekati orang-orang yang benar-benar bisa kamu percaya, mereka yang siap memberikan tindakan nyata untuk menolong dan melindungimu.
Novia Gina Sinaga
Teruntuk laki-laki di luar sana...
Pak, Bang, Mas... Kalau kamu pernah memukul istri, menampar anak, membanting barang sampai keluarga ketakutan, lalu menyesal, setelahnya kamu harus sadar kalau apa yang sudah kamu lakukan itu berbahaya. Menjadi laki-laki bukan berarti harus selalu ditakuti untuk dihormati. Kekuatan yang harusnya kamu punya itu melindungi, bukan melukai atau menyakiti.
Teruntuk perempuan di luar sana...
Pesan untuk yang pernah atau sedang mengalami KDRT, kamu enggak sendiri dan apa yang lagi kamu alamin bukan karna kesalahan kamu. Mungkin sekarang kamu ngerasa serba salah, takut, malu, bingung mau cerita ke siapa. Apalagi kalau ada anak, ada ketergantungan ekonomi, ada ancaman.Yang kamu harus tau adalah kamu berhak buat merasa aman dimanapun terutama di rumah kamu sendiri. Enggak ada alasan apapun yang membenarkan KDRT (dipukul, ditampar, dicekik, dilecehkan atau direndahkan terus-menerus). Batin kamu terluka dan sakit kamu itu nyata, kamu enggak harus kuat sendirian.
Nova Hani Ika Ningtyas
Teruntuk laki-laki di luar sana...
Gaada yang dibenarkan dari KDRT, kalian para laki-laki yang berani kasar dengan perempuan itu sakit jiwa.
Teruntuk perempuan di luar sana...
Mending tinggalkan laki-laki yang seperti itu, cari laki-laki baru. Because you're deserve better. (Hidup, Nova Hani!! Hidup!!)
Dwi Ayu Az-Zahra
Teruntuk laki-laki di luar sana...
Kamu mungkin bisa lupa dengan alasan kenapa kamu melakukan itu, tapi orang yang kamu sakiti mungkin akan mengingat rasa takutnya seumur hidup. Marah bukan alasan untuk menyakiti, dan cinta tidak pernah datang bersama kekerasan. Kalo benar-benar menyesal, jangan cuma minta maaf, tapi berubah.
Teruntuk perempuan di luar sana...
Kamu ga pantas diperlakukan seperti itu. Jangan salahkan dirimu atas luka yang orang lain pilih untuk diberikan. Kamu berhak dicintai tanpa rasa takut, dihargai tanpa harus terluka dan merasa aman di tempat yang seharusnya menjadi rumah. Bertahan bukan satu-satunya pilihan, kamu juga berhak memilih dirimu sendiri๐ค.
Nur Kholifah
Teruntuk laki-laki di luar sana...
Buat pelaku, emang (Bahasa Indonesia "Dog") ga ada otak aja yom, ga bisa kontrol emosi. Pelaku ga bisa dimaafin gitu aja harus bener-benar dihukum yom... (Mbak, sabar. Mbak, sabar ๐ญ Blak-blakan sekali ya Mbak. Jangan berkata kasar, Mbak. ๐ญ)
Teruntuk perempuan di luar sana...
Pesan gua buat korban, kejadian itu terjadi bukan salah kamu. Kamu sangat pantas dilindungi, banyak orang sekitar kamu yang lebih sayang sama kamu, memahami kamu dan membenci perilaku KDRT itu sendiri. Kamu punya hak untuk mencari pertolongan dan ditolong, jadi sebisa mungkin bertahan dan mau minta pertolongan ke orang lain. Pengen peluk banyak-banyak buat korban yom...
Fatiha Hasibuan
Teruntuk laki-laki di luar sana...
Pesan gua mending pelaku KDRT nya dipenjara sih yom dan mendapatkan hukuman yang setara.
Teruntuk perempuan di luar sana...
Untuk korban KDRT harus melaporkan kejadian tersebut dan apapun yang dialami.
Nicky Putri
Teruntuk laki-laki di luar sana...
As for the perpetrators, I just want to say that violence is never okay, no matter the reason. Please take responsibility for your actions and stop blaming your victim. If you really want to change, seek help and actually work on it. Saying sorry means nothing if you keep doing the same thing...
(Teruntuk para pelaku, aku ingin mengatakan bahwa kekerasan tidak pernah baik, tidak peduli alasannya apa. Please, bertanggung jawab atas tindakanmu dan berhenti menyalahkan korbanmu. Jika kamu benar-benar ingin berubah, cari bantuan dan benar-benar mengubah hal itu. Mengatakan maaf tidak ada artinya, jika kamu tetap melakukannya...)
Teruntuk perempuan di luar sana...
My message for those experiencing domestic abuse is that I want you to know that you’re not alone and what you’re experiencing is not your fault. Don’t be embarrassed to speak the truth. You deserve to be heard, to feel safe and to be treated well. You don’t have to face this alone, so please seek support from people you trust. I know it might be hard, but please do...
(Pesanku untuk yang mengalami KDRT adalah aku ingin kamu tahu bahwa kamu tidak sendiri dan apa yang kamu alami itu bukan kesalahanmu. Jangan malu untuk mengatakan kebenaran. Kamu berhak didengar, merasa aman dan diperlakukan lebih baik. Kamu tidak harus menghadapi ini sendiri, so, please cari support dari orang yang kamu percaya. Aku tahu ini mungkin sulit, but please lakukanlah...)
Yomita Sonia Tanjung
Teruntuk laki-laki di luar sana...
Kalau sudah tidak mencintai istri, lebih baik kembalikan ia kepada keluarganya secara baik-baik dengan penuh kehormatan. Jangan menyiksanya secara fisik maupun mental di balik dinding rumah. Melepaskan seseorang jauh lebih mulia daripada tetap menahannya hanya untuk menjadi tempat pelampiasan ego dan kemarahan yang berujung menjadi kekerasan.
Kamu yang memilih ia, kamu telah bersumpah untuk melindungi, mencintai dan menjunjung tinggi kehormatannya sebagai perempuan, istri dan menantu di depan orang-orang dan keluarganya. Kamu harus menepati itu semua dengan menghargai istri yang merupakan putri seorang ayah yang dibesarkan dengan rasa hormat, rasa cinta dan rasa percaya, bahkan mungkin juga seseorang yang tidak tahu rasanya memiliki keluarga yang utuh dan penuh dengan cinta, tawa dan menjunjung tinggi kehormatannya sebagai perempuan.
Seekor buaya saja bisa melindungi pasangannya dan anak-anaknya dari manusia atau hewan lain yang ingin menyakiti anak-anak dan pasangannya.
Karena itu jangan sampai kamu memanfaatkan seorang perempuan hanya untuk kepentingan ego, materi atau kepuasan sesaatmu saja, karena hubungan yang sehat dibangun di atas dasar rasa hormat, kejujuran dan kesetaraan, bukan dengan merugikan atau menjadikan pasangan sebagai objek yang bisa kamu hancurkan, lalu dibuang saat sudah tidak dibutuhkan.
Dan teruntuk perempuan di luar sana...
Aku tahu kamu lebih membutuhkan aksi perlawanan daripada kata-kata, tapi jika kalian merasa ini adalah kesalahan kalian, jangan percaya stigma seperti itu. Kalian tidak pernah meminta, mengundang atau menjadi penyebab dari kekerasan yang kalian terima.
Pelaku kekerasan adalah pihak yang bertanggung jawab penuh atas tindakan kasarnya terhadap kalian. Tidak ada alasan atau kesalahan sekecil apa pun dari pihak korban yang dapat membenarkan tindakan penganiayaan, baik secara fisik, psikis, seksual maupun finansial.
Suami kalian sering kali memutarbalikkan fakta dan membuat korban merasa bersalah (misalnya mengatakan "kamu yang memancing emosiku"). Hal tersebut adalah bentuk manipulasi agar kamu merasa tidak berdaya dan tetap berada dalam kendali pelaku yang merupakan suami kamu.
Menyadari bahwa diri ini tidak bersalah adalah langkah awal yang krusial untuk memutus siklus kekerasan dan mencari pertolongan luar.
Jangan pernah percaya pada stigma keliru yang mengatakan bahwa diam adalah jalan terbaik atau penderitaan di dalam rumah adalah takdir atau hukuman yang harus diterima, baik kamu yang memutuskan untuk menikah atau tidak. Kamu tidak pernah sendirian.
Sesama perempuan, kita harus saling merangkul dan menguatkan, bukan saling menghakimi. Lepaskan rasa bersalah yang bukan milikmu, karena bertahan dalam siksaan bukanlah bentuk kesetiaan, melainkan hilangnya kehormatan sebagai perempuan dan hakmu untuk bahagia.
Di mana pun dan kapan pun itu, kita akan tetap menjalani hidup, baik bersama dengan pasangan atau tidak sekaligus dengan bahagia, namun tetap akan ada rintangan.
"No one can hurt you or me..."
SPEAK UP NOW!!
We're a queen... We're valuable...
Love your mental health and your body...
Love yourself...
Love your life...
Bye...
From : Heart ๐
Sumber :
.png)
%20(3).png)
Komentar
Posting Komentar